Senin, 21 Januari 2013

Refleksi Penutup Perkuliahan Filsafat Ilmu



FILSAFAT, CONSTRUCTIVISM, EPISTEMOLOGICAL FOUNDATION OF MATHEMATICS
(Senin, 14 Januari 2013)

Filsafat itu mampu menjelaskan.  Filsafat dalam pembelajaran matematika bisa dijelaskan berdasarkan pengalaman-pengalaman.  Dapat pula dijelaskan melalui teoritis yaitu teori dan kerangkanya, serta akan lebih kuat jika dengan contohnya.
Bedanya orang yang belajar filsafat adalah mampu menembus filsafatnya tidak hanya berhenti sampai di psikologi.  Orang yang belajar pendidikan tetapi tidak belajar filsafat, maka constructivism hanya sebagai resep atau teori yang berhenti di psikologi saja, misal Piaget.  Karena filsafat constuctivism sejak awal mulai dari berubah ke tetap, dari persoalan filsafat membongkar mitos dan membangun logos.  Membangun logos adalah to construct.  To construct itu adalah salah satu wujud dari epistemologi (membangun, memperoleh, menentukan, justifikasi).  Constructivism dalam filsafat masih solid, tetapi jika sudah turun ke bawah maka menjadi tercerai berai.
Dalam filsafat, jika ada epistemological foundation, supaya adil pasti ada ontological foundation (prinsip keadilan), karena antara epistemological dan ontological tidak bisa dipisahkan.  Ada epistemological, ada ontological, pasti juga ada aksiological foundation.  Setiap yang ada dan yang mungkin ada bisa mempunyai foundation.  Namun, jika kita berbicara foundation maka hal itu baru separuh dunia, separuh yang lain adalah anti foundation (Intuitionism).  Dengan demikian dapat pula dibuat epistemological anti foundation of mathematics, hal itu sebagai bentuk kreatifitas mampu berbicara dan menerangkan.
Setiap filsafat itu adalah aliran, demikian juga setiap aliran itu adalah filsafat.  Semua metode berpikir bisa dipakai sebagai foundation.  Jika kita berbicara epistemological foundation of mathematics, maka tidaklah lengkap jika tidak disinggung pemikiran dari Kant yaitu sintetik a priori.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar